Anak belum mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi usia seperti mereka didominasi dengan modelling dan imitating dari apa yang mereka lihat dan terucap di lingkungan. Juga faktor peer grup, bagaimana usaha2 si anak agar ia merasa diterima di grupnya.
Apakah anak sudah mampu secara ideal berfikir bijaksana dalam menanggapi lagu "Lah Bodo Amat Bacot Amat" yang hits di kalangan mereka, meskipun segmen pasar bukan diniatkan untuk anak-anak?Sehingga mereka dilarang terpengaruh?
Memang bagi orang dewasa yang sudah paham kata "bacot amat, bodo amat", jika digunakan untuk sesama mereka bisa2 saja untuk memfilter. Tapi dengan paparan fakta yang ada dengan yang tertular kata2 itu juga anak2, padahal masa anak2 ini adalah masa dimana mereka dididik dan diberi nasehat, bila yang didapati oleh pendidik malah kata2 "bodoh amat bacot amat", apakah pendidikan dan pengasuhan dapat efektif dan berhasil? Apakah Anda, YL dan DC sudah pernah merasakan rasanya penolakan tsb dalam2 bila itu terjadi pada diri sendiri?
Saya paham niat Anda dalam lagu tersebut untuk mengedepankan prinsip walau anjing menggonggong kafilah berlalu. Tapi jika Anda sendiri, Mas Alex, prihatin dengan tidak adanya lagu anak2 masa kini maka TOLONG JANGAN MALAH DIPERKERUH DENGAN ANDA MENYAJIKAN LIRIK LAGU2 yang EFEKNYA KURANG BAIK UNTUK DITIRU terutama bagi anak2. Juga dengan pendekatan menggunakan nada lagu yang dekat dengan produk keseharian anak?
Bagaimana anak2 beradaptasi kalau pasar saat ini banyak content creator yang menyajikan kata2 yang kurang baik dan kurang memperhatikan sisi tanggung jawab sosial terhadap anak?
Kalau kiblat musiknya YL memang seperti itu sah2 saja. Tapi kita juga di Indonesia ini punya prinsip, identitas kebangsaan, tanggung jawab sosial, moral, dan agama. Paling tidak narasi/ syair lagunya mohon dipertimbangkan terkait hal2 di atas.
Saya memang remaja yang belum menikah dan belum memiliki anak. Tapi saya turut resah dengan apa yang selama ini berkembang di permukaan. Tentang inner child, tentang bullying, tentang kekerasan verbal non verbal dan sebagainya. Tidak hanya faktor parenting tapi juga LINGKUNGAN. Ada baiknya bukan hanya kita bersama2 fokus pada upaya penanganan ketika semua sudah terlanjur terjadi, tapi juga upaya pencegahan. Kita tidak akan pernah tau dampak seperti apa yang muncul 10 sampai 20 tahun kedepan jika menunggu suatu masalah menjadi sangat besar.
Kamipun paham kalau YL adalah pembela kaum kiri, tapi kami semua turut memohon, perjuangkanlah pembelaanmu itu dengan cara2 yang baik, berkaryalah sebagai influencer dengan memberikan dan menyebarkan konten yang positif, Anda dilihat oleh jutaan orang dari berbagai lapis. Yang bila baik yang disebar maka juga akan berpengaruh baik, bila burukpun akibat yang ditimbulkan bukannya tidak seberapa.
Saya berharap Young Lex semakin dimudahkan bahagianya, tentu dengan jalan2 yang baik, semakin meningkat kualitas bermusiknya dengan tanpa mengenyampingkan norma dan adab yang berlaku, menginspirasi di jalan kebenaran. Kami berpikiran positif terhadap YL dengan segala proses panjang perjuangannya di masa lalu tentu mampu pula menangkap nilai-nilai perjuangan para orang tua dan pendidik di Indonesia.
Terima kasih Young Lex, Terima kasih Paduka Dedy Susanto, Terima kasih Ibu Selly Unno dkk (Asosiasi Pengawas Penyiaran Indonesia), Terima kasih para pejuang pendidikan, demi Indonesia lebih baik.
I Wish You All The Best
Malang, 14 Agustus 2019
About Me
Popular Posts
-
Terima kasih, aku bersyukur, aku bahagia dan aku berkelimpahan kebaikan
-
Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa Berlatar Belakang Pendidikan Umum dan Agama Background Pengaruh sekolah pada si...
Facebook Page
https://www.facebook.com/search/top/?q=jodohku%20bersabarlah
Labels List Numbered
Blogger templates
Powered by Blogger.