The Effect of Religon Toward Pattern of Behavior and Student Achievement (Pengaruh Religiusitas Terhadap Pola Perilaku Peserta Didik)

Perilaku  Moral  dan  Religiusitas  Siswa
Berlatar  Belakang  Pendidikan  Umum  dan  Agama


Background
Pengaruh  sekolah  pada  siswa   tidak hanya   sebatas  pada  transfer  ilmu pengetahuan    saja,   tetapi   suasana  lingkungan  sekolah  dan   sistem   pendidikan  yang diterapkan   juga   dinilai  mempengaruhi  pengembangan   fungsi kepribaan siswa. Dengan demikian, pembelajaran moral sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan banyaknya perilaku moral dikalangan siswa seperti membolos, mencontek  ketika   ujian  atau  ulangan   harian, serta  berkelahi  antar  teman.
Sebagai seorang pendidik hal ini perlu ditinjau lebih lanjut. Siswa dididik dengan harapan dapat memiliki religiusitas yang baik di sekolah dengan cara melaksanakan rutinitas keagamaan yang tidak sekedar menjalankan peraturan. Lebih dari itu, siswa diharapkan mampu untuk menjadikan dirinya sebagai peserta didik yang religius, terlebih apabila siswa tersebut bernaung dalam institusi yang berbau islam. Hasil belajar maupun hasil pola asuh terhadap siswa yang berada di sekolah umum dengan sekolah islam terkadang memiliki perbedaan, bahkan bisa juga mengandung unsur persamaan.

Isi
Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui kemungkinan adanya perbedaan moral maupun  religius antara siswa berlatar belakang sekolah umum dengan siswa berlatar belakang pendidikan sekolah agama beserta kemungkinan terhadap dampak yang lain.
Ada beberapa  jenis  lembaga  pendidikan  yang  ada   dan   berkembang di Indonesia.   Dalam   penelitian  ini  ada  dua   jenis  lembaga   pendidikan  yaitu: 
(1) Latar  Belakang  Pendidikan  Umum,  yaitu Sekolah  yang  mempunyai  latar belakang pendidikan umum dalam penelitian ini diwakili oleh Sekolah Menengah Pertama  (SMP)   yang  merupakan  salah satu   lembaga   pendidikan  dibawah pembinaan Departemen Pendidikan Nasional. Dalam hal ini, pemberian mata pelajaran di  SMP  lebih  banyak  diberikan  mata pelajaran umum, daripada mata pelajaran agama,dan (2) Latar belakang Pendidikan Agama, yaitu Sekolah yang mempunnyai latar belakang pendidikan agama, dalam penelitan ini diwakili oleh  Madrasah Tsanawiyah (Mts) yang merupakan salah satu lembaga pendidikan dibawah sistem pendidikan nasional dan ditempatkan dibawah pembinaan Kantor Departemen Agama. Perbedaannya, MTs lebih memberikan pengetahuan agama yang tarafnya lebih banyak dibandingkan dengan pembelajaran di SMP.

Metode :
Identifikasi  Variabel  
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari:  (1)  Variabel  independen, meliputi latar belakang pendidikan umum dan agama, dan (2)Variabel dependen meliputi perilaku moral dan religiusitas.

Subyek :

Populasi yang diambil dari penelitian ini merupakan seluruh siswa SMP N 2 Bantul yang beragama islam dan seluruh siswa MTsN Gondowulung Bantul. Sampel penelitian adalah siswa kelas 8 SMPN 2 Bantul yang beragama Islam dan siswa kelas 8 MTsn Gondowulung Bantul Pengambilan ata dilakukan dengan cara merandom jumlah  kelas 8 dan setiap sekolah diambil sebanyak 2 kelas. SMPN 2 Bantul kelas 8 berjumlah 5 kelas kemdian diambil siswa kelas 8A dan 8D serta MTsN Gondowulung Bantul kelas 8 berjumlah 5 kelas kemudian diambil siswa kelas 8A dan 8E. Berbagai prosedur, subyek penelitian mengisi format identitas   singkat  kemudian  mengisi  tiga  alat   ukur  (skala   perilaku   moral,skala religiusitas   I,   dan   skala  religiusitas   II selama  1   jam   pelajaran  atau   45 menit. Hasil masing alat ukur dijumlahkan,sehingga didapat skor total untuk masing masing alat  ukur.  Skor  total   inilah   yang  digunakan dalam   analisis  data. 

Hasil Penelitian

Hasil uji hipotesis mengenai religiusitas menunjukkan tidak adanya perbedaan religiusitas antara siswa berlatar belakang pendidikan  umum  dan siswa   berlatar  belakang  pendidikan agama  yang  tidak  signifikan.  Hal  ini memberikanpengertian  bahwa   faktor  kuantitas  pemberian   materi  pelajaran agama tidak  mempengaruhi  kualitas keagamaan  para   siswa   dimana  siswa  yang berlatar  belakang  pendidikan agama   (MTs)   mendapatkan  pelajaran agama lebih banyak  dibandingkan dengan  siswa   berlatar  belakang  pendidikan  umum yang hanya mendapat pelajaran agama 2 jam pelajaran dalam satu minggu(Nawawi,1993).Namun dalam realitasnya terkadang muncul kecenderungan  bahwa   pendidikan agama   di   sekolah  hanya   dipelajari secara rasional teoritik sehingga agama tidak lebih dari sekedar ilmu daripada agama sebagai tuntutan   (pandangan   hidup) .

Religiusitas pada siswa berlatar belakang pendidikan umum sama dengan siswa berlatar belakang agama, hal ini kemungkinan disebabkan karena pada siswa berlatar belakang pendidikan umum mempunyai keinginan yang kuat untuk mempelajari agama lebih luas diluar pendidikan agama islam di dalam kelas. Jumlah jam pelajaran yang berbeda antara sekolah berlatar belakang pendidikan umum dengan sekolah dengan berlatar belakang pendidikan agama bukan satu satunya sumber yang mempengaruhi pembentukan religiusitas yang berbeda bagi pesertadidik. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya siswa yang  berlatar belakang  umum  selain  mendapatkan pelajaran agama  Islam secara formal di sekolah, siswa SMP juga mendapatkan pelajaran agama  secara informal melalui keluarga, kegiatan keagamaan di masjid, dan kegiatan keagamaan lainnya seperti Taman Pendidikan Al Quran, maupun kajian kajian. Sedangkan  siswa  yang  berlatar belakang  agama  atau  siswa   MTs   juga demikian. Adanya kegiatan religi yang diikuti di luar sekolah ini akan mempengaruhi tingkat religius pesuerta didik pada sekolah umum. Inilah salah satu faktor yang dapat menyebabkan tidak adanya perbedaan religiusitas antara siswa sekolah umum dan sekolah islam.

Pada akhirnya, berdasarkan hasil penelitian yang ada,dapat diambil kesimpulan mengenai perbedaan yang signifikan perihal perilaku moral dan tidak terdapat perbedaan religiusitas antara siswa berlatar belakang pendidikan umum  dansiswa berlatar  belakang pendidikan  agama;  dimana  siswa  berlatar  belakang pendidikan  umum  mempunyai  perilaku   moral  yang  lebih tinggi   daripada siswa berlatar belakang pendidikan  agama. Berdasarkan  hasil hasil  penelitian dan   pembahasan  yang  telah  dikemukakan,   ada   beberapa    saran  yang  dapat diajukan   sebagai  tindak   lanjut   penelitian ini  adalah         sebagaiberikut:(1)Hendaknya  pihak  sekolah  selalu   meningkatkan pembinaan   perilaku   moral  kepada  para  siswa   agar   perilaku   moral  para   peserta didik di sekolah dapat terkontrol dengan baik. (2) Pendidikan agama harus selalu dilakukan secara intensif baik di sekolah yang berlatar belakang pendidikan umum maupun agama. Hal hal terkait dapat dilakukan dengan meningkatkan kegiatan keagamaan, melalui ekstrakurikuler, kajian, dan sebagainya.




Sumber :  http://jurnal.psikologi.ugm.ac.id/index.php/fpsi/article/view/86   (Selasa,25 Mar 2014 , 8 : 55 AM )





Peningkatan Perilaku Religius Mahasiswa Melalui Integrasi Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pembinaan
Di Unit Kegiatan Keagamaan Mahasiswa


Background
Mahasiswa merupakan   calon   pemimpin   dan   penerus   perjuangan   bangsa.   Ketika mahasiswa yang sekarang   masih   belajar  di  perguruan    tinggi  dapat  terdidik  secara  utuh   dan terarah, maka masa depan bangsa dan negara ini akan baik. Dalam upaya  mengembangkan kemampuan pada  aspek afeksi,  secara  formal para mahasiswa diwajibkan mengikuti kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Tujuan yang   ingin   dicapai  dari  perkuliahan   ini  adalah  terbentuknya  kepribadian   yang   baik pada    mahasiswa     yang  beragama     Islam. Pola integrasi ini menjadi penting karena pembinaan ketika kurang terkontrol, dapat berdampak kepada perilaku keagamaan yang ekstrim.
Di sisi lain, selama   ini   dominasi   model   penilaian   konvensional  (paper   and   pencil) telah menyebabkan pencapaian hasil pembelajaran PAI kurang optimal. Dikarenakan model penilaian ini hanya mampu mengukur pencapaian belajar pada aspek kognitif. Padahal diadakannya perkuliahan  PAI   dan   menjadi   mata   kuliah   wajib   lulus   bertujuan   untuk membentuk agar  mahasiswa      memiliki    kepribadian     yang   mulia,   tidak   hanya   pada tingkat   pemahaman   tetapi   harus   sampai   pada   tingkat   pengalaman   dan   membentuk sikap    dan   perilaku    yang   lebih   permanen.       Oleh     karena   itu  dibutuhkan model pembelajaran dan evaluasi yang tepat agar tujuan dari perkuliahan PAI dapat tercapai dengan optimal.


Isi

Tujuan   Penelitian   ini   untuk  mengetahui  1)   model pembinaan   keagamaan   di   UNY.2)mengetahui apakah ada perbedaan dalam perilaku  religius antara mahasiswa       yang  mengikuti pembelajaran PAI terpadu dengan mahasiswa yang mengikuti  pembelajaran PAI 3)mengetahui perilaku religius mahasiswa yang  mengikuti   pembelajaran  Pendidikan   Agama   Islam  yang   terintegarasi   dengan pembinaan di unit kegiatan keagamaan. Sedangkan    metode    penelitian   yang   dipilih   dalam   rangka   mengembangkan   model   pembelajaran terpadu   antara   PAI   dan   pembinaan   keagamaan  bagi  mahasiswa   UNY  adalah   metode   penelitian tindakan   (action   research). Metode   ini   dipilih   karena   penelitian   tindakan   menitikberatkan   upaya untuk   meningkatkan   kualitas  subjek   penelitian. Penelitian ini   pada prosesnya   berusaha   untuk   menemukan langkah-langkah yang tepat dalam menyelenggarakan suatu program, sehingga program tersebut menjadi   lebih   efektif.   Pada   penelitian   tindakan   ini   pelaksana   (pendidik)   juga berlaku   sebagai peneliti dan merupakan kunci utama keberhasilan penelitian. Dengan demikian hasil penelitian ini berupa model pembelajaran  terpadu yang dapat    digunakan   oleh   Universitas   Negeri   Yogyakarta   untuk   mengimplementasikan   nilai-nilai moral religius dalam kehidupan kampus.

Waktu dan Tempat Penelitian

     Pelaksanaan penelitian ini       pada tahun ajaran 2008/2009 selama satu semester di   semester   gasal.   Penelitian   ini   mengambil   tempat   di   Jurusan   Pendidikan   Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.






Subjek Penelitian
Dalam      penelitian   ini  yang    menjadi    subyek    adalah    mahasiswa Jurusan   Pendidikan   Teknik   Mesin   yang   mengikuti   perkuliahan  Pendidikan   Agama Islam  di   semester   gasal.   Biasanya   jumlah   populasi   mahasiswa   baru   ini   yang   terdiri atas   mahasiswa   program   reguler   dan   non   reguler   berjumlah   sekitar   72   mahasiswa yang   terbagi   dalam   2   kelas.  Sampel   penelitian   dipilih   satu   kelas   sebagai   kelompok yang    akan   mendapatkan   pembelajaran         secara  terpadu     antara   PAI   dan   pembinaan keagamaan di unit kegiatan mahasiswa.

Instrumen Penelitian
Beberapa   instrumen   lain   yang   akan   digunakan   untuk   mengumpulkan   bukti-bukti   selama   penelitian   tindakan   menurut   Ellieot   (1993:   77)   adalah   catatan   harian (diaries), profil pembelajaran (lesson profile) dan kinerja subj ek penelitian (samples of   chicldren`s   work).  Demikian   juga   dalam   penelitian   ini   ketiga   dokumen   tersebut juga akan digunakan.  Dalam   penelitian   ini  alat yang   akan   digunakan     untuk   mengukur     perilaku religius   sesuai   dengan    tuntunan    Agama     Islam  adalah    berbentuk   check     list  dan kuesionair  dengan rubrik penilaian analitik.

Teknik Analisis Data
Pada      penelitian    tindakan     yang    digunakan      dalam     penelitian ini   akan menggunakan  penilaian   berdasarkan  kriteria   yang   ditentukan  oleh  peneliti  dan  akan dimintakan   pertimbangan   kepada          beberapa   dosen   PAI    yang   telah  berpengalaman.


Hasil

1.         Model   Pembinaan   keagamaan   dapat   dilakukan   dengan   Tutorial   Pendidikan Agama   Islam   ,   dengan   strategi   pembelajaran   melalui   diskusi   dengan   topik-  topik kontemporer      yang terjadi dimasyarakat.
2.         Perbedaan perilaku   religius  mahasiswa   sejauh   ini   belum   dapat   disimpulkan mengingat proses pembelajaran   PAI    baru   berjalan   6  kali  tatap  muka dan  tutorial PAI baru dilaksanakan 3 x tatap muka
  3.  Perilaku religius mahasiswa juga belum dapat diket ahui . Penelitian ini masíh terus berjalan direncanakan akhir nopember sudah dapat diketahui hasil akhir setelah dosen melakukan ujian tengah semester.









Hubungan Antara Kemampuan Baca Tulis Al Qur’an dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama islam


Background

Proses pembelajaran merupakan suatu hal yang inti untuk dijalani dalam sistem pendidikan. Ada 2 unsur utama yang dibebankan dalam prosesnya, yaitu mengajar dan belajar. Belajar adalah kegiatan yang bersifat disengaja dan disadari dalam memperoleh suatu isu. Belajar juga termasuk bagian dari proses perubahan tingkah laku yang disebabkan individu mengadakan respon terhadap lingkungan (Dahlan MD., TT: 20). Mempelajari suatu bidang ilmu merupakan bekal atau modal dasar dalam mempelajari bidang ilmu yang lebih tinggi. Misalnya, belajar berhitung merupakan modal dasar untuk pempelajari ilmu hitung dagang, dan ilmu-ilmu yang bersifat matematik lainnya. Belajar A, BA, TA, TSA, JA, HA, merupakan modal dasar untuk mempelajari Pendidikan Agama Islam. Secara teoretis, dapat diduga bahwa mempelajari A, BA, TA, TSA, JA, HA, dapat berpengaruh besar terhadap prestasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sebab keduanya memiliki unsur kesamaan, yaitu menggunakan huruf dan vokal Bahasa Arab.

Hasil   

Secara kajian empiris antara kemampuan baca tulis Alquran dengan dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam mempunyai korelasi positif, sekalipun kecil, Ini dibuktikan dengan angka korelasi sebesar 0,29 dengan keyakinan terjadinya korelasi sebesar 5%. Oleh karenanya, didapat tambahan dalil yang shahih bahwa kemampuan seseorang di bidang Baca Tulis Alquran dapat mempengaruhi peningkatan prestasi belajar bidang Pendidikan Agama Islam. Kajian ini terbatas pada dua variabel yang bersifat keagamaan. Oleh karena itu, direkomendasikan kepada para peneliti lain agar mengkaji apakah akan terjadi transfer atau pengalihan antara kemampuan bidang Ilmu Pengetahuan Alam ke dalam prestasi bidang Matematika, sebab keduanya memiliki unsur kesamaan, yakni sama-sama menggunakan rumus hitungan, dan atau akankah terjadi transfer antara kemampuan Pendidikan Kewarganegaraan terhadap prestasi belajar bidang Pendidikan Agama Islam?, sebab diduga kuat keduanya mengandung unsur kesamaan, yakni pembentukan manusia yang utuh.



Sumber :


No comments:

Post a Comment

Thanks for coming here!

Instagram