Pada hakikatnya predikat diri sebagai ‘manusia’ senantiasa merujuk pada makhluk yang selalu memiliki identitas tertentu dalam dirinya. Identitas tersebut mencakup nama, bentuk perangai, karakter, hingga merujuk pada rasa emosional yang senantiasa dibawa. Terkadang rasa jemu menyelimuti diri ketika manusia berada pada keadaan yang membawanya menuju suatu perbedaan, sehingga membuat diri ingin sesegera mungkin untuk singgah. Disisi lain perasaan untuk ingin tetap berada pada keadaan dan kondisi yang sama pun menjadi prioritas bagi golongan tertentu. Adapun tipikal manusia yang senantiasa ingin berada pada tempat dan jalan yang benar, tanpa ingin terbawa oleh arus kehidupan yang melalaikan dan membuat terlena. Satu diantara ketiga tipikal tersebut menjadi lika - liku perjalanan saya ketika menuju Darun Nun.
Dalam kesempatan perdana untuk dapat menorehkan pikiran melalui media ini, saya menghaturkan rasa terima kasih sedalam - dalamnya kepada Allah SWT yang secara tidak langsung telah memberikan jalan dan penegasan dalam memantapkan diri untuk melanjutkan langkah lebih jauh guna menggapai ilmuNya di Pondok Pesantren (PP) Darun Nun Bukit Cemara Tidar. Berhari - hari bahkan mencapai bulanan pikiran ini selalu terbayang - bayang akan pilihan yang satu ini. Alhamdulillah Allah telah meridhoi niatan dan cita - cita saya kala masih kecil untuk hidup dan merasakan suasana Pondok Pesantren yang penuh dengan kedamaian dan keteraturan seperti di PP Darun Nun. Dan yang lebih menggembirakan, sekarang keinginan itu bukan sekedar bayang - bayang belaka, namun telah tertuai dalam kehidupan sehari - hari. Barakallah fii kulli hal.
Kedua kalinya saya mengucapkan terima kasih yang mendalam terkhusus untuk Abi dan Umah kita di kampus maupun di pondok , Ust. Halimi Zuhdi beserta Ustdz. Sayyidah Hafsoh yang telah bersedia menerima niatan saya untuk menggali lebih dalam mengenai islam beserta akar - akarnya di tempat yang menjadi jalan beliau menggapai Jannah Allah. Dangan penuh kesabaran dan sifat keteladanan beliau begitu gigih dalam mengarahkan kami pada jalan yang benar. Semoga Allah membalas segala kebaikan yang telah beliau torehkan melalui tempat yang penuh barakah, Darun Nun. Allahuma Aamiin.
Disamping itu, rasa terima kasih juga saya tuangkan untuk seluruh santriwati Darun Nun yang hampir keseluruhannya telah menjadi sosok kakak bagi saya. Segala bentuk bimbingan, arahan maupun kritikan akan senantiasa menjadikan tangan ini terbuka bagi diri yang belum sempurna seperti saya. Layaknya sebuah pepatah, berharap kedepan ini kita semua mampu menjadi saudara yang Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing. Segala hal yang sekiranya mampu untuk saya berkontribusi, Insya Allah diri ini siap untuk memberi dan berbagi. Karena semua itu tidak terlepas dari status kita sebagai “One Big Family of Darun Nun”.
Melalui berbagai program beserta ketentuan yang telah direncanakan, saya memiliki keinginan yang menjadi acuan untuk menuju kehidupan lebih baik dari sebelumnya. Dari segi spiritual, emosional, maupun sosial ketiganya memiliki harapan agar terus - menerus berkembang menjadi lebih optimal, serta menjadikan waktu & kesempatan terfungsi untuk aktifitas yang berguna sehingga tidaklah menjadi manusia rugi atas segala yang tersia - sia. Disamping itu saya berharap agar kepengurusan yang saat ini menjadi naungan saya dapat menjadikan seluruh santriwati Darun Nun mampu menorehkan karya berbentuk puisi, pantun, maupun hasil pemikiran yang lain secara istiqomah dan optimal, tidak terkecuali untuk diri saya sendiri. Saya dari devisi kepenulisan berharap agar proses menulis indah ini menjadikan kita memiliki karya yang tidak hanya dapat dikenang. Lebih dari itu juga mampu memberikan torehan motivasi maupun inspirasi, karena menulis adalah dorongan hati yang mampu memberikan sumber pencerahan bagi hati yang lain .
Apa yang telah dituai pada hari ini akan datang dimana proses memanen menjadi hal yang begitu membahagiakan bagi diri. Banyak diluar sana yang berasumsi bahwa hidup di suatu pondok pesantren adalah hidup yang jauh dari kata ‘’merdeka”. Namun hal serupa sama sekali tidak menjadi usikan bagi perasaan ini. Saya nyaman dan saya pun menjalaninya. Jika kata ‘’nyaman’’ sudah menghinggapi maka tak perlu menunggu kapan datangnya bahagia. Berharap agar pengalaman yang hari demi hari saya jalani mampu menjadi bekal hidup tersendiri maupun bekal hidup untuk dapat menorehkan manfaat bagi sesama. Semoga.
http://www.slideshare.net/IndahMSAA/ppt-pengaruh-religiusitas-terhadap-pola-perilaku-dan-prestasi-peserta
Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa
Berlatar
Belakang Pendidikan Umum dan Agama
Background
Pengaruh sekolah
pada siswa tidak hanya sebatas pada transfer
ilmu pengetahuan saja,
tetapi suasana lingkungan sekolah dan sistem
pendidikan yang diterapkan
juga dinilai mempengaruhi pengembangan fungsi kepribaan
siswa. Dengan demikian, pembelajaran moral sangat diperlukan. Hal ini
dikarenakan banyaknya perilaku moral dikalangan siswa seperti membolos, mencontek
ketika ujian atau ulangan harian, serta
berkelahi antar teman.
Sebagai seorang pendidik hal ini
perlu ditinjau lebih lanjut. Siswa dididik dengan harapan dapat memiliki
religiusitas yang baik di sekolah dengan cara melaksanakan rutinitas keagamaan
yang tidak sekedar menjalankan peraturan. Lebih dari itu, siswa diharapkan
mampu untuk menjadikan dirinya sebagai peserta didik yang religius, terlebih
apabila siswa tersebut bernaung dalam institusi yang berbau islam. Hasil
belajar maupun hasil pola asuh terhadap siswa yang berada di sekolah umum
dengan sekolah islam terkadang memiliki perbedaan, bahkan bisa juga mengandung
unsur persamaan.
Isi
Tujuan utama dari penelitian ini
adalah mengetahui kemungkinan adanya perbedaan moral maupun religius antara siswa berlatar belakang
sekolah umum dengan siswa berlatar belakang pendidikan sekolah agama beserta
kemungkinan terhadap dampak yang lain.
Ada beberapa jenis
lembaga pendidikan yang ada dan
berkembang di Indonesia. Dalam penelitian ini
ada dua jenis lembaga pendidikan yaitu:
(1) Latar Belakang
Pendidikan Umum, yaitu Sekolah yang
mempunyai latar belakang pendidikan umum dalam penelitian ini diwakili
oleh Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang
merupakan salah satu lembaga pendidikan dibawah pembinaan
Departemen Pendidikan Nasional. Dalam hal ini, pemberian mata pelajaran
di SMP lebih banyak diberikan mata pelajaran
umum, daripada mata pelajaran agama,dan (2) Latar belakang Pendidikan Agama,
yaitu Sekolah yang mempunnyai latar belakang pendidikan agama, dalam penelitan
ini diwakili oleh Madrasah Tsanawiyah (Mts)
yang merupakan salah satu lembaga pendidikan dibawah sistem pendidikan nasional
dan ditempatkan dibawah pembinaan Kantor Departemen Agama. Perbedaannya, MTs
lebih memberikan pengetahuan agama yang tarafnya lebih banyak dibandingkan
dengan pembelajaran di SMP.
Metode :
Identifikasi Variabel
Variabel dalam
penelitian ini terdiri dari: (1) Variabel independen, meliputi latar belakang
pendidikan umum dan agama, dan (2)Variabel dependen meliputi perilaku
moral dan religiusitas.
Subyek :
Populasi yang diambil dari
penelitian ini merupakan seluruh siswa SMP N 2 Bantul yang beragama islam dan
seluruh siswa MTsN Gondowulung Bantul. Sampel penelitian adalah siswa kelas 8
SMPN 2 Bantul yang beragama Islam dan siswa kelas 8 MTsn Gondowulung Bantul
Pengambilan ata dilakukan dengan cara merandom jumlah kelas 8 dan setiap sekolah diambil sebanyak 2
kelas. SMPN 2 Bantul kelas 8 berjumlah 5 kelas kemdian diambil siswa kelas 8A
dan 8D serta MTsN Gondowulung Bantul kelas 8 berjumlah 5 kelas kemudian diambil
siswa kelas 8A dan 8E. Berbagai prosedur, subyek penelitian mengisi format
identitas singkat kemudian mengisi tiga alat
ukur (skala perilaku moral,skala religiusitas
I, dan skala religiusitas II selama 1
jam pelajaran atau 45 menit. Hasil masing alat ukur dijumlahkan,sehingga
didapat skor total untuk masing masing alat ukur. Skor
total inilah yang digunakan dalam analisis
data.
Hasil
Penelitian
Hasil uji hipotesis mengenai
religiusitas menunjukkan tidak adanya perbedaan religiusitas antara siswa berlatar belakang
pendidikan umum dan siswa berlatar belakang
pendidikan agama yang
tidak signifikan. Hal ini memberikanpengertian bahwa
faktor kuantitas pemberian materi
pelajaran agama tidak mempengaruhi
kualitas keagamaan para siswa dimana siswa
yang berlatar belakang pendidikan agama (MTs)
mendapatkan pelajaran agama lebih banyak
dibandingkan dengan siswa berlatar belakang
pendidikan umum yang hanya mendapat pelajaran agama 2 jam pelajaran dalam
satu minggu(Nawawi,1993).Namun dalam realitasnya terkadang muncul kecenderungan
bahwa pendidikan agama di sekolah hanya
dipelajari secara rasional teoritik sehingga agama tidak lebih dari sekedar
ilmu daripada agama sebagai tuntutan (pandangan
hidup) .
Religiusitas pada siswa berlatar
belakang pendidikan umum sama dengan siswa berlatar belakang agama, hal ini
kemungkinan disebabkan karena pada siswa berlatar belakang pendidikan umum
mempunyai keinginan yang kuat untuk mempelajari agama lebih luas diluar
pendidikan agama islam di dalam kelas. Jumlah jam pelajaran yang berbeda
antara sekolah berlatar belakang pendidikan umum
dengan sekolah dengan berlatar belakang pendidikan agama
bukan satu satunya sumber yang mempengaruhi pembentukan religiusitas yang
berbeda bagi pesertadidik. Hal tersebut dapat disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya siswa yang berlatar belakang
umum selain mendapatkan pelajaran agama Islam secara formal di sekolah, siswa SMP
juga mendapatkan pelajaran agama secara informal melalui keluarga, kegiatan
keagamaan di masjid, dan kegiatan keagamaan lainnya seperti
Taman Pendidikan Al Quran, maupun kajian kajian. Sedangkan
siswa yang
berlatar belakang agama atau siswa MTs
juga demikian. Adanya kegiatan religi yang diikuti di luar sekolah ini akan
mempengaruhi tingkat religius pesuerta didik pada sekolah umum. Inilah salah
satu faktor yang dapat menyebabkan tidak adanya perbedaan religiusitas antara
siswa sekolah umum dan sekolah islam.
Pada akhirnya, berdasarkan hasil
penelitian yang ada,dapat diambil kesimpulan mengenai perbedaan yang
signifikan perihal perilaku moral dan tidak terdapat perbedaan religiusitas antara
siswa berlatar belakang pendidikan umum
dansiswa berlatar belakang pendidikan agama;
dimana siswa berlatar belakang pendidikan umum mempunyai
perilaku moral yang lebih tinggi daripada siswa
berlatar belakang pendidikan agama. Berdasarkan hasil‐ hasil penelitian dan
pembahasan yang telah dikemukakan, ada
beberapa saran yang
dapat diajukan sebagai tindak lanjut
penelitian ini adalah
sebagaiberikut:(1)Hendaknya pihak sekolah selalu
meningkatkan pembinaan perilaku moral kepada
para siswa agar perilaku moral para
peserta didik di sekolah dapat terkontrol dengan baik. (2) Pendidikan
agama harus selalu dilakukan secara intensif baik di sekolah yang berlatar
belakang pendidikan umum maupun agama. Hal hal terkait dapat dilakukan dengan
meningkatkan kegiatan keagamaan, melalui ekstrakurikuler, kajian, dan
sebagainya.
Sumber : http://jurnal.psikologi.ugm.ac.id/index.php/fpsi/article/view/86
(Selasa,25
Mar 2014 , 8 : 55 AM )
Peningkatan
Perilaku Religius Mahasiswa Melalui Integrasi Pembelajaran
Pendidikan
Agama Islam (PAI) dan Pembinaan
Di
Unit Kegiatan Keagamaan Mahasiswa
Background
Mahasiswa merupakan calon
pemimpin dan penerus
perjuangan bangsa. Ketika mahasiswa yang sekarang masih
belajar di perguruan
tinggi dapat terdidik
secara utuh dan terarah, maka masa depan bangsa dan
negara ini akan baik. Dalam upaya mengembangkan
kemampuan pada aspek afeksi, secara
formal para mahasiswa diwajibkan mengikuti kuliah Pendidikan Agama Islam
(PAI). Tujuan yang ingin dicapai
dari perkuliahan ini
adalah terbentuknya kepribadian
yang baik pada mahasiswa yang
beragama Islam. Pola integrasi
ini menjadi penting karena pembinaan ketika kurang terkontrol, dapat berdampak
kepada perilaku keagamaan yang ekstrim.
Di sisi lain, selama ini
dominasi model penilaian
konvensional (paper and
pencil) telah menyebabkan pencapaian hasil pembelajaran PAI kurang
optimal. Dikarenakan model penilaian ini hanya mampu mengukur pencapaian
belajar pada aspek kognitif. Padahal diadakannya perkuliahan PAI
dan menjadi mata
kuliah wajib lulus
bertujuan untuk membentuk agar mahasiswa
memiliki kepribadian yang
mulia, tidak hanya
pada tingkat pemahaman tetapi
harus sampai pada
tingkat pengalaman dan
membentuk sikap dan perilaku
yang lebih permanen.
Oleh karena
itu dibutuhkan model pembelajaran
dan evaluasi yang tepat agar tujuan dari perkuliahan PAI dapat tercapai dengan
optimal.
Isi
Tujuan Penelitian
ini untuk mengetahui
1) model pembinaan keagamaan
di UNY.2)mengetahui apakah ada
perbedaan dalam perilaku religius antara
mahasiswa yang mengikuti pembelajaran PAI terpadu dengan
mahasiswa yang mengikuti pembelajaran
PAI 3)mengetahui perilaku religius mahasiswa yang mengikuti
pembelajaran Pendidikan Agama
Islam yang terintegarasi dengan pembinaan di unit kegiatan keagamaan.
Sedangkan metode penelitian
yang dipilih dalam
rangka mengembangkan model
pembelajaran terpadu antara PAI
dan pembinaan keagamaan
bagi mahasiswa UNY adalah metode
penelitian tindakan (action research). Metode ini
dipilih karena penelitian
tindakan menitikberatkan upaya untuk
meningkatkan kualitas subjek
penelitian. Penelitian ini pada
prosesnya berusaha untuk
menemukan langkah-langkah yang tepat dalam menyelenggarakan suatu program,
sehingga program tersebut menjadi
lebih efektif. Pada
penelitian tindakan ini
pelaksana (pendidik) juga berlaku sebagai peneliti dan merupakan kunci utama
keberhasilan penelitian. Dengan demikian hasil penelitian ini berupa model
pembelajaran terpadu yang dapat digunakan
oleh Universitas Negeri
Yogyakarta untuk mengimplementasikan nilai-nilai moral religius dalam kehidupan
kampus.
Waktu
dan Tempat Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini pada tahun ajaran 2008/2009 selama satu
semester di semester gasal.
Penelitian ini mengambil
tempat di Jurusan
Pendidikan Teknik Mesin,
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.
Subjek
Penelitian
Dalam penelitian ini
yang menjadi subyek
adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan
Teknik Mesin yang
mengikuti perkuliahan Pendidikan
Agama Islam di semester
gasal. Biasanya jumlah
populasi mahasiswa baru
ini yang terdiri atas mahasiswa
program reguler dan
non reguler berjumlah
sekitar 72 mahasiswa yang terbagi
dalam 2 kelas.
Sampel penelitian dipilih
satu kelas sebagai
kelompok yang akan mendapatkan
pembelajaran secara terpadu
antara PAI dan
pembinaan keagamaan di unit kegiatan mahasiswa.
Instrumen
Penelitian
Beberapa instrumen
lain yang akan
digunakan untuk mengumpulkan bukti-bukti
selama penelitian tindakan
menurut Ellieot (1993:
77) adalah catatan
harian (diaries), profil pembelajaran (lesson profile) dan kinerja subj
ek penelitian (samples of
chicldren`s work). Demikian
juga dalam penelitian
ini ketiga dokumen
tersebut juga akan digunakan.
Dalam penelitian
ini alat yang akan
digunakan untuk mengukur
perilaku religius sesuai dengan
tuntunan Agama Islam
adalah berbentuk check
list dan kuesionair dengan rubrik penilaian analitik.
Teknik
Analisis Data
Pada penelitian tindakan
yang digunakan dalam
penelitian ini akan menggunakan penilaian
berdasarkan kriteria yang
ditentukan oleh peneliti
dan akan dimintakan pertimbangan kepada beberapa dosen
PAI yang telah
berpengalaman.
Hasil
1. Model Pembinaan keagamaan
dapat dilakukan dengan
Tutorial Pendidikan Agama Islam
, dengan strategi
pembelajaran melalui diskusi
dengan topik- topik kontemporer yang terjadi dimasyarakat.
2. Perbedaan perilaku
religius mahasiswa sejauh
ini belum dapat
disimpulkan mengingat proses pembelajaran PAI
baru berjalan 6
kali tatap muka dan tutorial PAI baru dilaksanakan 3 x tatap muka
3. Perilaku religius mahasiswa
juga belum dapat diket ahui . Penelitian ini masÃh terus berjalan direncanakan
akhir nopember sudah dapat diketahui hasil akhir setelah dosen melakukan ujian tengah
semester.
Hubungan
Antara Kemampuan Baca Tulis Al Qur’an dengan Prestasi Belajar Pendidikan Agama
islam
Background
Proses pembelajaran merupakan suatu hal yang inti untuk dijalani
dalam sistem pendidikan. Ada 2 unsur utama yang dibebankan dalam prosesnya,
yaitu mengajar dan belajar. Belajar adalah kegiatan yang bersifat disengaja dan
disadari dalam memperoleh suatu isu. Belajar juga termasuk bagian dari proses
perubahan tingkah laku yang disebabkan individu mengadakan respon terhadap
lingkungan (Dahlan MD., TT: 20). Mempelajari suatu bidang ilmu merupakan bekal
atau modal dasar dalam mempelajari bidang ilmu yang lebih tinggi. Misalnya,
belajar berhitung merupakan modal dasar untuk pempelajari ilmu hitung dagang,
dan ilmu-ilmu yang bersifat matematik lainnya. Belajar A, BA, TA, TSA, JA, HA,
merupakan modal dasar untuk mempelajari Pendidikan Agama Islam. Secara
teoretis, dapat diduga bahwa mempelajari A, BA, TA, TSA, JA, HA, dapat
berpengaruh besar terhadap prestasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sebab
keduanya memiliki unsur kesamaan, yaitu menggunakan huruf dan vokal Bahasa
Arab.
Hasil
Secara kajian empiris antara kemampuan baca tulis Alquran dengan
dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam mempunyai korelasi positif,
sekalipun kecil, Ini dibuktikan dengan angka korelasi sebesar 0,29 dengan
keyakinan terjadinya korelasi sebesar 5%. Oleh karenanya, didapat tambahan
dalil yang shahih bahwa kemampuan seseorang di bidang Baca Tulis Alquran dapat
mempengaruhi peningkatan prestasi belajar bidang Pendidikan Agama Islam. Kajian
ini terbatas pada dua variabel yang bersifat keagamaan. Oleh karena itu,
direkomendasikan kepada para peneliti lain agar mengkaji apakah akan terjadi
transfer atau pengalihan antara kemampuan bidang Ilmu Pengetahuan Alam ke dalam
prestasi bidang Matematika, sebab keduanya memiliki unsur kesamaan, yakni
sama-sama menggunakan rumus hitungan, dan atau akankah terjadi transfer antara
kemampuan Pendidikan Kewarganegaraan terhadap prestasi belajar bidang
Pendidikan Agama Islam?, sebab diduga kuat keduanya mengandung unsur kesamaan,
yakni pembentukan manusia yang utuh.
Sumber :
About Me
Popular Posts
-
Terima kasih, aku bersyukur, aku bahagia dan aku berkelimpahan kebaikan
-
Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa Berlatar Belakang Pendidikan Umum dan Agama Background Pengaruh sekolah pada si...
Facebook Page
https://www.facebook.com/search/top/?q=jodohku%20bersabarlah
Labels List Numbered
Blogger templates
Powered by Blogger.
